Cerpen pelajar by Cleo Kasih Kunanti Disini

 

                                    KASIH KU NANTI DISINI

                                         

Bintang duduk di pinggir lapangan basket. dia meremas-remas tangannya yang disertai keringat.

"Duarrrrr......" Bintang tersentak kaget. Wulan cengengesan di tempatnya, melihat ekspresi Bintang. 

"Kamu sudah lama menunggu?" Bintang menggeleng. Dia memang menunggu Wulan yang latihan ekstrakulikuler musik. Sedangkan Bintang sendiri mengikuti ekstrakulikuler basket. Bintang mendongak ke atas langit, diikuti Wulan. Langit sore yang indah. Keduanya terbawa pikiran masing-masing.

"Tadi Galang bagaimana?" Wulan melirik Bintang sekilas.

"Bagaimana apanya?" tanya Bintang balik. Sudah menjadi rutinitas Wulan untuk menanyakan keadaan Galang. Galang. Salah satu pria terganteng, pintar, dan punya banyak bakat. Bintang satu kelas dengan Galang, bahkan satu ekstrakulikuler. Hal itu yang membuat Wulan sahabatnya ini, selalu menanyakan keadaan Galang.

"Kamu kan sudah tahu maksud aku." Jawab Wulan. 

"Baik kok , seperti biasanya." Bintang terus menatap langit sore itu, tanpa mengalihkan pandangannya. Sejujurnya ada sebuah rahasia yang dia simpan sendiri, tanpa diketahui Wulan. Yah, dia juga menyukai Galang, wajar saja kalau dia juga suka pada Galang. Cowok itu ganteng, pintar dan populer. Mungkin bukan hanya Wulan dan Bintang yang jatuh hati padanya tapi gadis lain juga. Apalagi Bintang yang satu kelas dengan Galang bahkan satu ekstra.

Bintang bangkit berdiri, sambil mengibas celananya yang sedikit berdebu. 

"Mau kemana?" tanya Wulan sambil bangkit berdiri.

"Pulanglah, kamu mau di sini terus ?" Bintang berjalan deluan ke depan, yang membuat Wulan harus mengejar ketinggalannya.

"Ihh, Bintang! Tungguin dong." Wulan mensejajarkan langkahnya dengan Bintang. Gadis itu hanya diam, tanpa membalas perkataan Wulan. Bisa dibilang Bintang orangnya pendiam, berbeda dengan Wulan yang cerewet dan hiperaktif.


***


Bintang masuk ke dalam rumahnya. Rumahnya sangat sepi. Seperti tidak berpenghuni. kedua orang tuanya sibuk bekerja. Bintang langsung menuju kamarnya,menyalakan lampu dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia memejamkan matanya. Tak lama kemudian suara klakson mobil terdengar memasuki pekarangan rumahnya. Siapa lagi kalau bukan kedua orang tuanya. Bintang masih memejamkan matanya, berusaha melepaskan segala kepenatannya.

Prang  ... 

Tiba-tiba suara itu menghantam telinga Bintang. Bintang terperenjat kaget dan bangun dari tidurnya. Tak perlu waktu lama untuk memikirkan dari mana arah suara itu. Bintang langsung keluar dari kamarnya, menurunu tangga dan menuju ruang tamu. Dia melebarkan matanya ketika masih berdiri di anak tangga. Mamanya sudah berderai air mata, sedangkan papanya terlihat emosi. Bukan hal baru melihat orangtu nya bertengkar. Bintang sudah capek melihat orang tuanya begini. Apakah kedua orangtuanya tidak memikirkannya. Bintang kembali berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Dia langsung lompat ke atas tempat tidurnya dan memejamkan matanya.


***


Pagi hari Bintang menuruni tangga lengkap dengan seragam dan tasnya. Dia berjalan menuju meja makan dan langsung menyambar roti bakar kesukaannya.

"Hari ini kamu diantar supir, soalnya papa ada rapat." kata papa Bintang sambil berjalan pergi. Bintang sudah terbiasa, selalu ditinggal kedua orang tuanya. Mereka tidak pernah ada untuk Bintang. Mendengar sedikit cerita Bintang pun tidak permah. Bintang berjalan menuju mobil. Dia tak mau terlambat seperti hari kemarin, harus ketinggalan pelajaran dan susah meminjam catatan temannya.


***


Bintang duduk di kurisnya dan menatap soal-soal yang ada di depannya dengan bingung. Bintang menyesali kebodohannya dalam hitungan. Dia menoleh ke belakang memandangi teman sekelasnya. 'ah mereka pasti bisa, merekakan pintar.' batib Bintang.

"Kamu tidak catat materinya?" Bintang tersontak kaget, saat melihat Galang yang tiba-tiba duduk disampingnya. Bintang menggeleng. Dia hanya bisa pasrah. dia kembali menatap satu persatu angka-angka dihadapannya. ' rasanya mau muntah.' batin Bintang.

kringgg..... bel pulang sekolah berbunyi, tanda waktu pulang sekolah telah tiba. Semua murid heboh.

"Kalau mau salin matematika, datang jam 4 kerumah aku." Galang pergi keluar kelas dan memperlihatkan senyum tipis. 

Rumah Bintang dan Galang berhadapan, jadi akan mudah untuk Bintang kerumah Galang. Tiba-tiba Wulan menghampiri Bintang dan mengajaknya jalan-jalan. Bintang ikut saja, karena dia malas harus pulang kerumah. Yang penting sebelum  jam 4 dia harus sampai di rumah, karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menerima tawaran Galang. Setelah asyik jalan-jalan, akhirnya mereka pulang naik angkutan umum yang berbeda. Wulan bertempat tinggal di pinggir jalan raya yang dipenuhi dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Wulan adalah anak tunggal dari seorang pejabat, tentu saja rumahnya mewah dean bertempat dikawasam elit. Sedangkan Bintang hanya bertempat tinggal di area kompleks yang sepi dan sederhana, yang kadang rumah-rumahnya tak berpenghuni semua. Sama seperti rumah Bintang yang setiap harinya terasa kosong lenyap tak bernyawa.

Bintang turun dari angkutan umum dan berjalan menuju area kompleks perumahannya. Langkahnya ia percepat karena jam sudah menunjukan jam 4 lewat 10 menit. 

Tin tin tin tin tin......  suara klakson sepeda motor mengagetkannya.

"Cepat naik." Galang menatap Bintang dengan tatapan tajam. Bintang menurut saja pada Galang. Mereka berhenti didepan rumah Galang, lalu masuk kedalam rumah yang pintunya terbuka begitu saja. Bintang mengikuti kemana Galang melangkah. Dan tibalah ditempat tujuan, yakni ruang belajar. Bintang melongo saat masuk kedalam ruang belajar Galang. Ruang belajar itu lebih seperti perpustakaan di sekolah. Semua buku tersusun rapi di rak buku. Bintang menelan salivanya. Ruang belajar Galang sangat berbeda dengan ruang belajarnya. Ruang belajar Bintang hanya terdapat satu meja belajar dan satu rak buku mini. Dan itu pun hanya buku pelajaran yang dikasih dari sekolahnya, beserta beberapa novel dan komik miliknya.

"Kamu belum belajar yang mana saja?"

"Bab 3 aku tidak mengerti, bab 5, bab 4 juga sama."

"Kamu ngapain saja dikelas?'

Bintang terdiam, tak menjawab. Galang menarik kursi dan menyuruh Bintang duduk. Galang menerangkan satu persatu materi yang menurut Bintang tak mengerti. Galang menyuruh Bintang untuk mengerjakan soal-soal yang dia tulis dibuku Bintang. Seperti murid yang baik, Bintang mengangguk saja setiap apa yang diperintahkan Galang kepadanya. Setelah satu jam berkutat dengan trigonometri dan logaritma, akhirnya mereka istirahat.

"Kamu mau minum apa?"

"Apa saja."

"Air putih?"

"Boleh."

Galang melangkah keluar ruang belajar ,menuju dapur, sedangkan Bintang asyik berpetualang dengan isi ruang belajar Galang. Bintang memandangi buku-buku milik Galang. Dia menyentuh semua buku yang tersusun rapi di rak buku. Galang kembali kekamar dengan membawa satu gelas air putih dan satu gelas jus jeruk, serta satu toples keripik.

"Kok aku minum air putih sedangkan kamu minumnya jus?"

"Loh, tadikan katanya apa saja boleh."

"Tadi kamu nawarinnya air putih."

"Kenapa tidak kamu tolak?"

"Yah sudah."

Mereka menghabiskan minuman dan keripik satu toples penuh sehingga, tak terasa waktu sudah menjelang malam. Bintang melirik jam tangannya. Lalu membereskan bukunya. Bintang menuruni tangga dan menuju pintu depan. Dia melambaikan tangannya pada Galang dan masuk dalam rumahnya. sampai didalam rumah, Bintang mengintip lewat jendela diruang tamu dan memandangi Galang yang sedang masuk kedalam rumahnya. Bintang tersenyum gembira. Dia berlari menaiki tangga untuk mengganti pakaiannya karena sebentar lagi jam makan malam bersama...... Ah, hampir saja dia lupa, dia kan makan malam sendiri seperti biasanya.


*** 


Bintang duduk  di lantai lapangan basket ditemani Galang. Bintang memang menunggu Galang latihan, agar mereka bisa pulang bersama dan belajar lagi. Bintang membuka ranselnya dan mengeluarkan satu botol air mineral dari dalam tasnya. 

"Kamu pasti haus.", ucap Bintang seraya memberikan botol minum itu kepada Galang. 

"Makasih." Galang menerima minuman tersebut dan tersenyum tipis.

"Kenapa tidak ikut latihan?" Galang melirik sekilas ke arah Bintang.

"Lagi malas saja." jawab Bintang pendek.

Hari sudah menjelang sore, mereka pulang meninggalkan lapangan basket dan berjalan menuju parkiran sekolah. 

"Bintang hidung kamu berdarah!" Seru Galang khawatir dengan wajah panik. 

Bintang langsung mengusap hidungnya.

"Ini, pakai ini buat bersihin darahnya." Galang menyodorkan sapu tangan ke Bintang. 

"Makasih"


***


Hari ini Bintang kesiangan, pembantu rumah tangganya lupa membangunkannya, sedangkan dia juga lupa menyetel alarm di ponselnya. 

Bintang berlari di koridor sekolah dan sempat berhenti di mading. Dia menemukan namanya di kelas XI IPA 4. Dia masih menyipitkan matanya dan menemukan ada nama Galang di sana. Senyumnya seketika merekah, karena dia masih sekelas dengan Galang. Bintang membalikan badannya, hendak menuju kelasnya. Dia berjalan menyusuri lorong-lorong kelas yang masih cukup ramai. Bintang terhenti ketika dia belum sampai di kelasnya, dia berpapasan dengan Wulan yang sedang membawa beberapa buku. 

"Mau ke kelas yah?" Wulan tersenyum tipis. Bintang mengangguk pelan.

"Bareng yuk?" ajak Wulan.

"Tapi kelas kamu kan di sana." Bintang menunjuk kelas XI IPA 3.

"Aku mau ke ruang guru, kelas kamu kan dekat ruang guru. Kita barengan saja." Wulan merangkul Bintang dengan sebelah tangannya. 

Sudah satu tahun berlalu, Bintang sekarang kelas 2 SMA. Bintang masih bisa mengingat kembali ketika dia pertama kali menginjakan kakinya di sekolah ini. Rasanya baru kemarin dia mengikuti Masa Orientasi Siswa ( MOS ). 

"Aku sudah simpan perasaan ini satu tahun lalu. Entah kenapa banyak laki-laki yang aku tolak, rasanya aku belum bisa. Aku suka sama Galang. Selama ini aku hanya tau dia dari cerita-cerita yang kamu ceritakan ke aku. Aku juga ingin miliki dia, jadi tolong bantu aku untuk jadian sama dia." Bintang terdiam. Apa yang dikatakan Wulan barusan membuatnya terdiam kaku. 

Bintang masuk ke dalam kelas meninggalkan Wulan yang menatapnya bingung, karena meninggalkannya begitu saja.


***


Terik matahari membakar kulit kedua orang ini. Sepanjang perjalanan menuju rumah mereka, keduanya hanya diam. Bintang dan Galang hari ini sengaja berjalan kaki. Rumah mereka tidak terlalu jauh dari sekolah. 

Bintang sesekali mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya dengan tangannya sendiri. Galang hanya diam melihat semua yang dilakukan Bintang, dari mulai menggigit bibir, meremas-remas tangan, menyapu keringat padahal sudah tidak ada lagi keringat yang menempel di kulitnya. Dia tau bahwa Bintang sedang dalam keadaan gugup. 

"Galang, ada yang mau aku bicarakan." Bintang menatap lurus jalan yang ada di depannya. 

"Apa?" Galang mengucapkannya seakan tidak ingin bertanya.

"Wulan suka sama kamu." Bintang mencoba mengucapkan kalimat itu meski terasa sakit. 

"Lalu?" Galang menatap Bintang seakan-akan mencari tahu di balik dua bola matanya. 

"Dia ingin jadi pacar kamu." Bintang mencoba terlihat biasa saja.

"Kamu ingin aku jadi pacar Wulan?" Galang berucap datar.

"Aku harap kamu mau." Bintang menarik napas dalam-dalam dan pergi meninggalkan Galang yang berdiri di depan rumah Bintang. 

Bintang masuk ke dalam rumahnya dan berlari menaiki tangga membuka pintu kamarnya, dan merebahkan badannya di tempat tidur. Dia memejamkan matanya dan memeluk gulingnya. Rasanya kepalanya pusing, sulit bernapas, sehingga seluruh anggota tubuhnya terasa sakit, merasakan apa yang ia rasakan. Bintang tidak tau kenapa ia harus menangis, karena sebenarnya dia tak berhak untuk menangis. 


***


Sudah tiga minggu berlalu, Bintang tak mengobrol ataupun bertegur sapa dengan Galang. Dia tak lagi satu tempat duduk dengannya, karena tempat duduk mereka selalu rolling satu minggu sekali. Bintang malas melihat Galang, apalagi Wulan yang setiap bertemu pasti bercerita tentang Galang. Dia selalu berpura-pura tidak lihat atau membuang muka ketika berpapasan dengan Galang dan Wulan. Rasanya begitu sakit harus melihat mereka berjalan berdua atau sekadar  terlihat mengobrol. Dia benci pemandangan itu. Apalagi kalau Bintang harus melihat Galang yang membonceng Wulan saat pulang sekolah. Mengapa dia tidak mendapatkan apa yang didapatkan Wulan? Wulan nyaris sempurna sebagai seorang perempuan. Dia cantik, pintar, kaya, terkenal dan baik. Rasanya dunia tak adil bagi Bintang. Dia tidak begitu cantik, dia lamban dalam menghitung, keluarga yang sederhana dan hubungan kedua orang tuanya tak harmonis, tak banyak orang yang mengenalnya karena ia bukan siswi senang ikut organisasi seperti Wulan yang menjabat sebagai Ketua OSIS. 


***


Satu tahun berlalu, Galang berjalan di sebuah kompleks perumahan yang sepi. Semuanya masih terasa sama, bahkan tak ada sedikitpun yang berubah. Satu tahun yang lalu, Galang harus pindah rumah keluar kota. Dia ikut dengan kedua orang tuanya. Namun sebelum pindah, Galang telah mengakhiri hubungannya dengan Wulan dan dia kembali akrab dengan Bintang. 


FLASHBACK ON

"Aku pergi dulu, kamu jaga diri baik-baik di sini, ingat belajar." Kata Galang kepada Bintang. Mereka berdua sekarang berdiri di depan rumah Bintang. Galang ingin berpamitan dengan Bintang, karena sebentar lagi ia harus berangkat ke luar kota untuk pindah rumah. 

Bintang mengangguk lemah. Dia harus menerima kenyataan bahwa Galang akan pergi. 

"Kemanapun kamu pergi, jangan lupa untuk kembali." jawab Bintang sambil memeluk Galang. 

FLASHBACK OFF 


Galang menghampiri seorang wanita yang hendak menutup pagar. 

"Maaf  Bik, apakah ini rumah Bintang?" 

"Silahkan masuk dulu ke dalam." Bibik itu membukakan pagarnya dan menyuruh Galang masuk ke dalam rumah. Lalu Galang duduk di sebuah sofa kecil sambil menatap ke sudut-sudut rumah yang terlihat sepi.

"Nak Galang, Bintang sudah pergi satu tahun yang lalu." Galang mengernyitkan dahinya, belum mengerti dengan apa yang bibik itu katakan.

"Maksudnya?"

"Non Bintang telah pergi dengan bahagia ke tempat lain, yang sangat jauh." jelas bibik itu. Galang tercekat. Apakah ia tak salah dengar? Apakah pembantunya Bintang sedang bergurau? Apakah dia sedang bermimpi?

"Bintang pernah menitipkan benda ini untuk seorang cowok yang bernama Galang. Dia mengatakan bahwa, suatu saat nanti cowok itu akan datang mencarinya. Bibik rasa benda ini ditujukan untuk kamu karena selama ini bibik menunggu cowok yang akan datang ke rumah ini." 

Setelah menerima benda itu, Galang berpamitan kepada sang bibik untuk pulang. Galang berjalan menuju rumahnya yang sudah lama ia tinggalkan, dia membuka pagar dan berdiri. Dia kembali mengingat satu tahun ke belakang, ketika Bintang berdiri di sana untuk berangkat bersama ke sekolah. Galang tak percaya kini semuanya tinggal kenangan, kenangan yang paling berarti bersama Bintang. Galang membuka pintu rumahnya dan duduk di sofa ruang keluarga. Galang perlahan membuka kotak yang diberikan pembantu Bintang tadi. Sebuah buku tergeletak disana. Galang meraih buku itu dan perlahan mencoba membukanya.


***

             Galang, kepadamu aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu. Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka dan kebersamaan cuman memperbanyak ruang tertutup.  Mungkin jalan kita tidak bersampingan. Yah, jalanmu dan jalanku.


              Ya Tuhan, kenapa Engkau memberikan penyakit ini kepadaku. Aku masih mau hidup. Aku mau menggu Galang kembali, tambahkan sedikit umurku, aku sudah berjanji padanya akan menunggunya disini. Menunggunya, dan mengatakan kalau aku menyayanginya. Dialah aku bertahan hingga sekarang. Karena dia semangat hidupku bertambah. Suatu saat nanti aku akan merindukan sosok seperti dia, yang tak kutemukan pada diri orang lain.

Galang terus membuka halaman berikutnya, membaca semua curahan hati Bintang yang tertulis dalam buku itu. 

Galang menutup buku itu, dia tak sanggup lagi membaca tulisan Bintang. hatinya sakit, kenapa dia tak menyadari kalau Bintang suka padanya. Sebenarnya Galang juga menyukai Bintang. Waktu Bintang meminta Galang untuk pacaran dengan Wulan, pada saat itu Galang mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaan pada Bintang. 

Galang menyesal. Tanpa disadari dia meneteskan air mata. mengingat kembali kenangannya bersama Bintang, kenangan yang tak mungkin terulang lagi.

Jaga selagi bersama, karena waktu yang telah berlalu hanya akan menyisakan penyesalan. Saat kamu menyadari dia tak dapat kamu dapatkan kembali.


***

Comments