MUTIARA DI SYURADIKARA
“kukuuruuuyukkkkkkk.....” terdengar suara si jago merah yang menggangu ditelinga Ku, sehingga pagi itu aku terbangun dari tidur Ku. Karena pagi itu merupakan awal pertama Aku masuk SMA.
“wahhhh sudah pagi ni,saat nya Aku harus bersiap ke sekolah.” Kira-kira siapa ya, yang akan Ku temui di sekolah nanti”. Kata Ku dengan terburu-buru sambil berlari menuju ke kamar mandi. Setelah Aku selesai bersiap-siap, ada hal ganjil yang Aku lupa.
”Apa ya?” tanya ku bingung.
” Pier! Hari pertama sekolah itu jangan lupa berdoa ya” pesan Ibu kepada Ku.
Aku pun tersenyum simpul sambil bergerak ke arah kamar untuk berdoa.
Pukul 06.45 aku keluar dari rumah untuk menuju ke sekolah.”Bremmmm..” suara knalpot speda motor Ayahku yang melaju kencang serta suara nyanyian burung yang ikut menemani Ku berangkat ke sekolah. Aku tiba di gerbang kuning putih yang megah itu, di balik gerbang yang megah itu, tampaklah gedung bertema klasik yang berdiri kokoh, yang membuat Ku terkagum-kagum. Rasa canggung tiba-tiba muncul di pikiran Ku untuk berkenalan dengan teman baru Ku. Apakah di Sekolah ini Aku dapat menemukan teman dengan cepat? Kataku dengan sedikit tidak percaya diri. Pada saat itu juga, ada seorang yang tak ku kenal berdiri tepat di samping Ku.
“ Hay bro, siapa nama Mu?” tanya Ku. ” Jeremias, atau biasa di panggil jemi”, katanya sambil menatap malu ke arah Ku.
Aku pun mulai berjabatan tanda pertemanan mulai muncul. Ketika itu Aku benar-benar merasa hanya Jemi teman Ku, karena disana Aku sangat sulit untuk beradaptasi. Banyak kalangan anak remaja yang bersekolah disini, semua datang dari berbagai penjuru kabupaten dan berbagai macam sekolah. Aku melewati hari pertama sekolah Ku bersama kawan baru Ku Jemi.
” Untung saja Jemi satu kelompok dengan Ku jika tidak?” Kataku dengan penuh rasa bersyukur.
Pada jam istirahat Aku dan Jemi duduk di bawah pohon tepat berada di depan ruang 31.
“Pier akan Ku kenalkankan kawan Ku kepada Mu!” Kata Jemi dengan penuh gembira. “Hah kau pikir, kau mempunyai teman disini?” kata Ku dengan penuh tatapan sinis kepadanya.
Lalu jemi menarik Ku ke arah segerombolan anak laki-laki yang duduk tepat di bawah tangga samping Kapela, yah masih berada di kawasan dalam sekolah Ku.
“Semua itu temanMu?’ tanya Ku dengan sedikit ragu dan merasa sedikit geli melihat jemi. “Iya mereka semua itu adalah teman-temanKu.” Kata Jemi dengan penuh tatapan serius melirik ke arah Ku.
Sambil berbicara kami menuju ke arah Kapela. “Hai Sandro!” sahut Jemi. “Hai Jemi , siapa yang kau bawah apakah dia teman baruMu?” Jawab Sandro kepada Jemi.
“Iya ini kawan baru Ku. Prkenalkan nama Mu!” Kata Jemi
Aku benar-benar terkejut dan sejenak terdiam, tak Ku sangka ternyata kawan Ku Jemi ini mempunyai teman dengan begitu cepatnya.
“Perkenalkan Nama Ku Pier” sahut Ku dengan sedikit ragu.
“Sandro!” jawabnya dengan tegas, sambil mengulurkan tangan nya kepada Ku. “Perkenalkan ini Kevin, Nanda,Elson,Ary,Vito,Ferel dan Mario” kata Sandro.
Aku benar-benar terdiam karena Aku merasa begitu terkejut dengan mudahnya Aku dapat berkenalan dengan kawan-kawan baru Ku. Dengan senyuman simpul, Aku kehabisan kata-kata.
“Pier sekarang kau menjadi teman kami” Kata Elson kepada Ku dengan gaya nya sendiri, yah bisa dikatakan Elson ini agak sedikit sombong, karena dengan cara nya berkenalan saja bisa ku lihat.
Aku benar-benar merasa senang karena akhirnya Aku mendapatkan kawan yang menurut Ku cukup asik diajak berteman. Selama jam istirahat berlangsung Aku bercerita banyak dengan kawan-kawan baru Ku itu.
“Ketika bel tanda berakirnya KBM kita berkumpul di parkiran” Kata Nanda dengan nada sepertinya dia kelaparan. Bisa dikatakan begitu karena dari raut wajahnya saja menunjukan, di tambha lagi dengan postur tubuhnya yang besar.
“Baiklah kita berkumpul dan pulang bersama-sama!” jawab Jemi.
Aku hanya terdiam mendengarkan apa yang diucapkan kawan-kawan baruku. Ketika Tanda berakinya KBM berbunyi Aku dan Jemi berjalan ke arah parkiran menunggu Sandro, Ary, Nanda, Kevin dan Elson. Ketika semua sudah berkumpul kami pun bersama-sama berjalan menyelesuri lorong yang tak jauh dari sekolah kami, Aku pun baru kali ini melewatinya.
“Walaupun merasa haus, capek, lapar dan lelah setidaknya tak ada mata yang membakar kita siang hari ini”kata Kevin dengan raut wajah yang begitu serius
. “ Apa yang dia maksudkan?” tanyaku dengan nada bingung kepada Ary.
“ Hahahhaha, jangan dengarkan dia Pier! Kevin memang orangnya begitu.” Kata Ary sambil menertawakanku.
“ Maksudnya Kevin itu Matahari, untung saja tak ada matahari jika ada kita akan benar-benar merasa lelah” kata Sandro kepada Ku.
Siang itu Aku baru bisa memahami bagaimana teman Ku Kevin, tak apalah walapun baru dia yang ku kenal sifatnya sedikit. Ketika sesampainya di tempat tujuan kami yaitu di ketapang tepat berada di depan warung. Kami bersama-sama menunggu angkutan umum yang akan kami tumpangi. Tak terasa lama nya kami menunggu karena Aku dan teman-teman baru Ku ini asik mengobrol.
“ Tadi pada saat istirahat kalian melihat seorang perempuan yang duduk menyendiri di Naungan Hijau satu tidak?” tanya Sandro kepada Kami.
“ Yang mana? Banyak kali perempuan yang duduk di Naungan itu!” Jawab Jemi dengan nada sedikit sinis.
“Yah ampun masa kalian tidak melihatnya, perempuan itu sangat cantik.” Kata Sandro dengan nada penuh semangat.
“Maksud Mu perempuan yang duduk di bawah pohon tidak jauh dari tempat yang kita berkumpul tadi ?” tanya Ku.
“Iya, Kau melihatnya? Tanya Sandro kepada Ku.
“Iya Aku melihatnya.” “Wanita itu cantik kan? Aku menyukainya!” Kata Sandro kepada Kami.
“Aku belum pernah menyukai seorang wanita” kata Ku .
“hah? Tipu lu.” Kata Nanda seperti tidak mempercayai Ku.
Ketika angkutan umum yang akan kami tumpangi datang kami pun sama-sama masuk ke dalam, memberitahukan alamat rumah kami masing-masing.
Di dalam perjalanan Jemi berbisik kepada Ku, “ Kau benar-benar belum menyukai satu perempuan pun?”
karena Jemi adalah teman Ku maka Aku pun mempercayainya, Aku meceritakan kenangan-kenangan masa SMP Ku kepadanya.
“Jemi, Aku memang pernah mempunyai teman dekat, tapi tak ada rasa suka yang timbul, Aku hanya sekedar mengagumi saja.”
Kata Ku dengan nada pelan kepadanya. Jemi pun terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. “Pier kau tenang-tenang saja nanti saya yang akan mengatur semua.” Kata Jemi,
“ Jemi apa yang mau kau buat?” balas Ku kepada Jemi dengan sedikit heran apa yang terjadi kepadanya.
“Ada seorang perempuan, seangkatan dengan kita cantik sih lumayan lah, besok akan ku tunjukan kepadamu.” Kata jemi kepada Ku.”Baiklah” jawab ku.
Keesokan harinya Kami berkumpul kembali, yah seperti kemarin sama-sama duduk di tangga samping Kapela. Jemi pun menarik tangan Ku kebelakang lalu ia menunjuk ke arah selatan dari tempat kami berkumpul. Ada dua orang perempuan berjalan dari arah aula.
“Perempuan yang berada di sebelah kanan itu, yang Ku bicarakan kemarin.” Kata jemi, “ah biasa saja” kata Ku.
“ Hey? Kau benar-benar tidak melirik.” Kata jemi kepada Ku dengan nada seperti sedikit heran.
“lalu Aku harus apa? Tertarik pun tidak, pasti wanita itu memiliki selera yang tinggi.” Jawab Ku kepada Jemi. Jemi pun terdiam.
Ketika kami bercerita banyak, Aku melihat ada seorang wanita yang berjalan menyelusuri jalan tepat di depan Ku. Lalu Jemi dan teman-teman Ku mengganggunya.
“ Kemana woy?’ kata Kevin kepada wanita itu. “Kantinlah, kenapa mau ikut?” balas wanita itu.
“ Aku pun bertanya kepada Jemi “Siapa dia?”, “ Inggid” Jawab jemi.
Ketikaku melihatnya Aku merasa sedikit tertarik kepada Nya, entah mengapa tiba-tiba saja perasaan itu munuk kembali. Lalu Aku pun bertanya banyak kepada Jemi.
“ Wanita itu teman kalian?” tanya Ku . “Ya dia teman kami” jawab Jemi kepada Ku.
Seperti biasa Kami pulang bersama-sama, menunggu angkutan umum bersama-sama, bercerita, kelakar semuanya berjalan dengan baik. Keesokan harinya, Aku pun kembali berangkat ke sekolah. Dalam perjalanan ke sekolah Aku masih membayangkan sosok wanita yang berbicara dengan teman-teman Ku kemarin. Setibahnya Ku di sekolah Aku pun bertemu Jemi, kami berdua sama-sama memulai kegiatan. Banyak kegiatan hari ini Aku sangat merasa lelah. Bel tanda istirahat pun berbunyi, sebelum Aku dan Jemi berkumpul dengan teman-teman Ku, Aku mengajak Jemi ke kantin untuk membeli minuman, sepulangnya kami dari kantin, kami berdua langsung menuju ke arah kapela. Aku benar-benar terkejut, di sana Aku melihat wanita yang ku bayang-bayangi dari sepulang sekolah kemarin hingga Pagi nya Aku ingin berangkat ke sekolah. Ketika Aku dan Jemi tiba teman-teman Ku langsung memperkenalkan Ku kepada wanita itu.
“Ingg, kenalkan ini Pier kawan baru kami.” Kata Sandro,
“Inggid” Katanya dengan suara yang begitu halus dan sedikit senyuman sambil menyodorkan tngan nya kepada Ku untuk berjabatan tangan.
“Pier” kata Ku sambil membalas senyum nya dan berjabatan tangan dengan nya.
Entah kenapa Aku merasa senang karena bisa berkenalan dengan nya. Aku hanya terdiam melihat teman-temanku begitu asik mengobrol dengannya,
“sepertinya mereka berteman cukup lama karena mereka kelihatan begitu dekat.” Kata Ku dalam diam.
Aku pun memberanikan diri Ku untuk membagi kebahagiaan Ku ini dengan menceritakan nya kepada kawan Ku Jemi.
“Jemi apakah kau berteman lama dengan inggid?” Kata Ku. “ Ya lumayan” Jawab Jemi kepada Ku.
“Memangnya ada apa Pier, Aku lihat-lihat kau dari kemarin menanyakan inggid kepada Ku, Oh apakah kau menyukainya?” Tanya Jemi kepada Ku.
Sekarang Aku merasa bingung, apa yang harus Ku jawab kepada Jemi. Sebaiknya Aku ceritakan saja,
“Jemi ketika Aku melihat inggid Aku tertarik kepadanya dan pada saat kami berkenalan tadi Aku merasa senang bisa berkenalan dengan nya
.” Jemi langsung melirik ke arah Ku. “Baguslah, Aku akan membantu Mu untuk dekat dengan nya.” Kata Jemi kepada Ku.
Hari-hari telah ku lalui bersama dengan teman-temanku dan juga brsama inggid, tiba saatnya mengumumkan pembagian kelas. Ternyata tak ku duga Aku mendapat satu kelas bersama Jemi, Elson, Kevin, Nanda dan Juga inggid. Hari-hari ku lalui belajar bersama kawan-kawanku itu dan disitu pun aku mulai mengenal inggid lebih dekat karena kami teman sekelas, Aku mulai menyukainya dari cara ia berteman, tingkah lakunya, tutur katanya, kepribadianya, Aku benar-benar merasa Aku menyukai dirinya. Aku pun memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan Ku kepadanya, tak ku sangka ia juga menyukai Ku dan mulai pada saat itu lah kami mulai mengenal satu sama lain lebih mendalam, berbagi cerita, bertukar pendapat. Ku sadari apa yang telah kurasakan dan kualami bahwa di Kampus Syuradikara lah ku temukan Mutiara Ku.
Comments
Post a Comment